JSibolga, SeputarTapanuli.com – Kasus asusila dibawah umur terjadi di Kota Sibolga, Sumatera Utara (Sumut). Korbannya seorang gadis remaja dibawah umur berinisial M, dan pelakunya seorang bapak-bapak muda anak satu berinisial RPH,17, warga Jalan Kelurahan Pancuran Pinang, Kecamatan Sibolga Sambas, Kota Sibolga.

Pelakunya RPH sudah diamankan oleh pihak Kepolisian Resort (Polres) Sibolga. Dia diduga telah melakukan tindak pidana persetubuhan terhadap anak sebagaimana dimaksud dalam pasal 76D Jo Pasal 81 ayat (2) Undang-Undang (UU) RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (PA) dengan ancaman hukuman minimal lima tahun dan maksimal 15 tahun atau denda 5 miliar rupiah.

“Pelaku RPH diamankan Selasa (30/6) sekitar pukul 16.00 WIB ketika berdiri dipinggir jalan di Jalan Perdagangan, Tapteng,” kata Kapolres Sibolga, AKBP Triyadi, dalam keterangannya lewat Kasubbag Humas, Iptu R Sormin, Minggu (5/7).

Kasus asusila ini terungkap atas laporan ibu korban M, berinisial D, warga Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) kepada pihak Polres Sibolga, Jum’at (5/6) sekira pukul 17.00 WIB lalu. Bermula dari kepulangan korban M kembali ke rumah mereka setelah enam bulan pergi meninggalkan rumah.

Korban M kemudian ditanyai dan mengaku bahwa dia sudah tidak suci lagi. Dia dan pelaku RPH telah melakukan hubungan badan layaknya suami istri di salah satu penginapan di jalan Horas dan dibelakang kantor pemerintahan di Kota Sibolga.

“Setelah menerima laporan tersebut, Kasat Reskrim, AKP D Harahap memerintahkan unit Opsnal (Buser Reskrim) untuk melakukan penyelidikan dan pendalaman atas laporan itu,” beber Sormin.

Dalam pengakuannya ucap Sormin, pelaku mengenal korban M sejak Desember 2019 dan mengawali hubungan badan layaknya suami isteri dengan korban M setelah mereka tiga hari pacaran.

“Korban M belum pernah melakukan perbuatan itu, tapi sejak mengenal pelaku RPH, mereka telah melakukan perbuatan itu lebih kurang sebanyak 10 kali. Perbuatan itu mereka lakukan sejak mereka saling mengenal sepanjang Desember 2019 hingga Mei 2020,” kata Sormin.

Sebelum melakukan perbuatan itu, pelaku terlebih dahulu meyakinkan korban bahwa dia (Pelaku) akan bertanggungjawab. Namun ternyata pelaku tidak bertanggungjawab, sehingga orang tua korban melaporkannya kepada pihak yang berwajib.

“Akibat perbuatan pelaku RPH, korban M pun sudah tidak gadis lagi. Sementara pelaku RPH tidak bertanggungjawab, berdalih karena tidak memiliki uang untuk menikahi korban M. Korban M sendiri tidak tamat Sekolah Dasar (SD),” pungkas Sormin. (Jhonny Simatupang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *