Tapanuli Selatan, SeputarTapanuli.com – PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe di Batangtoru, menyerahterimakan fasilitas bangunan Menara Pandang Kebun Raya Sipirok kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara (Sumut), Senin (1/21).

Presiden Direktur (Presdir) PTAR, Muliady Sutio mengatakan, pembangunan Menara Pandang sebagai salah satu fasilitas pendukung di Kebun Raya Sipirok tersebut merupakan salah satu kontribusi PTAR melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) di bidang lingkungan. Dengan harapan Kebun Raya Sipirok bisa menjadi tujuan atau destinasi wisata daerah yang memiliki keunggulan serta berdampak luas kepada pembangunan Tapsel secara umum.

”PTAR sebagai salah satu anggota Astra Group akan terus berkomitmen untuk memberikan manfaat optimal bagi seluruh pemangku kepentingan, khususnya di sekitar wilayah operasional tambang. Salah satunya adalah melalui pengembangan Kebun Raya Sipirok sebagai pusat edukasi lingkungan dan destinasi wisata di Tapsel,” kata Muliyadi.

Muliyadi tidak memungkiri, keanekaragaman hayati telah menjadi perhatian utama PTAR melalui berbagai program pengelolaan lingkungan yang seksama dan terarah. Salah satu contoh adalah fasilitas pembibitan Tambang Emas Martabe yang mengusahakan bibit tanaman lokal untuk mendukung program rehabilitasi.

“Ini sejalan dengan visi pengembangan Kebun Raya Sipirok yang bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan juga akan berfungsi sebagai pusat penelitian (Edukasi) dan pusat konservasi tumbuhan atau flora langka yang ada di Tapsel dan sekitarnya,” tukas Muliady.

Luas bangunan utama Menara Pandang Kebun Raya Sipirok yang diserahterimakan oleh PTAR tersebut sekitar 583 meter persegi dengan tinggi +31,5 meter dari lantai dasar bangunan. Terdiri dari 7 lantai yang dilengkapi dengan satu unit elevator (lift) serta satu unit bangunan ruang genset.

Dengan mempertimbangkan faktor keamanan terhadap potensi gempa dan angin di lokasi, Menara Pandang tersebut dibangun dengan menggunakan pondasi tiang pancang (Prestressed Concrete Pile) yang diikat dengan balok-balok beton bertulang. Struktur rangka menggunakan rangka baja dengan konstruksi lantai komposit beton bertulang.

Menurut Direktur Operasional PTAR, Darryn McClelland, dukungan yang diberikan PTAR dalam pembangunan Menara Pandang tersebut dimulai dari perencanaan dan desain bangunan, pekerjaan pondasi tiang pancang, pekerjaan struktur, pekerjaan elektrikal dan instalasi lift elevator.

“Total anggaran yang dikeluarkan oleh PTAR untuk pembangunan Menara Pandang ini lebih dari Rp13 miliar,” jelas Darryn.

Sama halnya disampaikan Senior Manager Community & Security PTAR Pramana Triwahjudi. Pramana menyebutkan, dalam pelaksanaannya, pembangunan Menara Pandang Kebun Raya Sipirok tersebut dikerjakan oleh beberapa kontaktor berskala Nasional dan Regional, yaitu PT Gasindo Pratama untuk Pekerjaan Struktur dan Arsitektur, PT Titilasembada Primandiri untuk Pekerjaan Mekanikal & Elektrikal, serta PT Mitsubishi Jaya Elevator and Escalator untuk penyediaan dan pemasangan lift elevator.

“Kemudian PTAR selalu berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU dan PR) dalam persetujuan desain dan pengawasan selama pekerjaan berlangsung serta Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Tapsel untuk segala hal yang terkait perizinan,” ucap Pramana.

Adapun pembangunan Menara Pandang Kebun Raya Sipirok ini diawali dengan acara Ground Breaking pada 14 Agustus 2020 melalui penanaman tiang pancang pertama oleh Bupati Tapsel, Syahrul M Pasaribu, yang dihadiri beberapa perwakilan manajemen PTAR dan Ketua DPRD Tapsel, Husin Sogot Simatupang, serta sejumlah undangan di lokasi Kebun Raya Sipirok.

“Pembangunannya relatif sangat cepat karena hanya memakan waktu sekitar 4 bulan sejak Oktober 2020 dengan tetap mengutamakan kualitas sesuai spesifikasi yang ditetapkan serta faktor keselamatan kerja selama proses pekerjaan berlangsung,” tukasnya.

Bupati Tapsel, Syahrul M Pasaribu pada kesempatan itu, mengucapkan terima kasih kepada PTAR atas dukungan terhadap pembangunan Menara Pandang di Kebun Raya Sipirok. Menurutnya, Menara Pandang tersebut akan menjadi aset daerah yang sangat berharga untuk Tapsel.

“Kami optimistis Menara Pandang dan Kebun Raya Sipirok Tapsel akan menjadi ikon di Kawasan Pantai Barat Sumut, bahkan menjadi ikon di Indonesia, setelah Kebun Raya Bogor,” ungkapnya.

Acara serah terima Menara Pandang Kebun Raya Sipirok itu dilakukan dengan penerapan Protokol Kesehatan (Prokes) ketat oleh Direktur Keuangan/CFO PTAR, Noviandri L Hakim mewakili Presiden Direktur (Presdir) PTAR, Muliady Sutio, kepada Bupati Tapsel, Syahrul M Pasaribu.

Turut hadir pada kesempatan itu jajaran Direksi PTAR, Direktur Hubungan Eksternal Sanny Tjan, dan Direktur Engineering, Ruli Tanio.

Kebun Raya Sipirok ini memiliki luas areal ± 90 hektar are (Ha) berlokasi di Areal Perkantoran Pemkab Tapsel dan akan berfungsi sebagai pusat penelitian (Edukasi) dan pusat konservasi tumbuhan atau flora langka yang ada serta destinasi wisata bagi daerah Tapsel dan sekitarnya.

Pengelolaan Kebun Raya Sipirok turut didampingi oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam memberikan pembinaan pusat penelitian dan pusat konservasi tumbuhan atau flora langka, termasuk memberikan pelatihan teknis (pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan kaidah-kaidah kebun raya) kepada Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebun Raya Sipirok.

Kebun Raya Sipirok ini didukung karyawan Buruh Harian Lepas (BHL) sebagai pekerja yang militan tentang perkebunrayaan dan sudah mendapat pendidikan dan pelatihan (Diklat) tentang teknik perkebunrayaan dan Diklat Global Positioning System (GPS) dari LIPI dan Sistem Informasi Geografis (GIS) dari Pemkab Tapsel.

Sesuai master plan, Kebun Raya Sipirok terbagi ke dalam beberapa zonasi, yakni zonasi kayu-kayuan, zonasi pakan orang utan, zonasi tanaman industri, dan lain-lain. Sejumlah tumbuhan yang ada di dalam Kebun Raya Sipirok merupakan hibah dari LIPI dan hasil eksplorasi mandiri dari tim Pemkab Tapsel serta partisipasi pihak lain.

Di area Kebun Raya Sipirok dilakukan juga penanaman buah lokal endemik Tapanuli yang sudah hampir punah, diantaranya Hapundung, Bukbak, Hopong, Salak merah dan sebagainya. (Jhonny Simatupang/ril)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *