Tapanuli Tengah, SeputarTapanuli.com – PA, 51, warga Sibuluan Nalambok, Kelurahan Sarudik, Kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) ini, kemungkinan akan meringkuk dibalik jeruji dalam waktu lama. Ia telah menipu uang seorang Aparat Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Modus penipuannya dengan menjual rumah milik orang lain yang berada di Perumahan Sonang Nauli, Kecamatan Sarudik, Tapteng sebesar Rp186 juta.

Kasus ini terkuak ketika korban seorang perempuan, Gusniar Limbong, 54, ASN, warga Kelurahan Sibuluan Indah, Kecamatan Pandan, Tapteng, ingin menempati rumah yang dirasa telah dibelinya di Perumahan Sonang Nauli, Kecamatan Sarudik, Tapteng. Namun alangkah terkejutnya dia, setelah melihat rumah tersebut telah ditempaati orang lain tanpa sepengetahuannya.

Gusniar lalu menemui PA dan menanyakan kenapa rumah itu ditempati oleh orang lain. Namun bukan PA jika tidak berdalih. PA mengatakan bahwa rumah itu cuma dikontrak oleh orang yang tinggal di rumah itu selama 1 tahun. PA juga mengatakan bahwa ia yang akan membayarkan biaya kontrak atas rumah yang ditempati orang itu sebesar Rp5 juta selama 1 tahun.

Namun Mei 2019, Gusniar di telepon oleh orang yang menempati rumah tersebut dan mengatakan bahwa ada orang lain yang mengaku bernama Ridwan Hutabarat sebagai pemilik rumah dan sudah menggadaikannya ke BRI Cabang Sibolga.

Gusniar lagi-lagi harus disibukkan dengan urusan rumah itu. Ia pun menemui Ridwan Hutabarat lalu menunjukkan bukti-bukti kepemilikannya atas rumah itu. Bukti yang dibawa Gusniar berupa foto copy kwitansi penyerahan uang darinya kepada PA sebanyak 19 lembar dengan total sebesar Rp186 juta serta 4 lembar foto copy kwitansi penyerahan uang dari Suneta Anggreni kepada PA sebesar Rp81 juta dan foto copy dokumen Sertifikat Hak Milik Nomor 310 Propinsi Sumatera Utara (Propsu), Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Kecamatan Sarudik, Kelurahan Pondok Batu.

Tapi ternyata, Ridwan Hutabarat, yang mengaku atau yang mengklaim sebagai pemilik rumah itu juga memperlihatkan bukti yang sama kepada Gusniar.

Gusniar pun lemas dan tak berdaya. Ia akhirnya melaporkan kasus itu kepada pihak Kepolisian Resort (Polres) Tapteng, karena ia merasa telah ditipu dan rugikan oleh PA sebesar Rp186 juta.

Kapolres Tapteng, AKBP Nicolas Dedy Arifianto, melalui Paur Humas, JS Sinurat, mengatakan, awal kasus itu bermula pada 12 Juni 2018 lalu. Ketika itu, korban (Pelapor) Gusniar mengambil 1 unit Perumahan di Perumahan Sonang Nauli, Sarudik.

“Kemudian korban membayarkan biaya booking fee sebesar Rp5 juta untuk unit blok A No 12,” ujar Sinurat, Selasa (25/8).

Namun lanjut Sinurat, karena masa kerja dan umur korban sudah tidak bisa lagi mengambil Kredit Perumahan Rakyat (KPR), aka korban disarankan oleh terduga pelaku (Terlapor) PA untuk mengambil unit rumah tersebut melalui cicilah bertahap sampai lunas.

“Harga unit tersebut di tambah biaya kelebihan tanah dan biaya pengurusan sampai mendapatkan sertifikan sebesar Rp186 juta,” bebernya.

Korban sambung Sinurat, menyanggupi untuk membayar sebesar apa yang dikatakan oleh PA. Pada 17 Februari 2020, korban sudah melunasi biaya satu unit rumah tersebut. Namun ketika akan ditempati, rumah itu ternyata sudah ditempati orang lain dan bahkan ada yang mengaku sebagai pemilik rumah itu.

“Terduga pelaku PA terancam pasal 372 dan/atau pasal 378 KUHP dengan ancaman 4 tahun penjara,” pungkasnya. (Jhonny Simatupang)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *