Sibolga, SeputarTapanuli.com – Seorang Paman (Adik Ayah) dan Ponakan (Anak Abang) di Kota Sibolga, Sumatera Utara (Sumut), ditangkap karena diduga sebagai pelaku kejahatan pencurian Handphone (HP) milik seorang perempuan penjual paket internet di kota itu. Paman dan ponakan itu berinisial AS alias A alias S, 32, dan IBHS alias L, 15.

Kapolres Sibolga, AKBP Triyadi, dalam keterangannya yang disampaikan Kasubbag Humas, Iptu R Sormin, Rabu (9/9) mengatakan, keduanya (Paman dan Ponakan) ditangkap pada Senin (31/8) dini hari lalu di Santeong Kelurahan Santeong, Kecamatan Sibolga Kota, usai melakukan aksi kejahatan pencurian HP milik Yuliza Anisa Fitri, 18, pelajar, warga Jalan Merpati, Kelurahan Aek Manis, Kecamatan Sibolga Sambas, pada Kamis malam (27/8). Yuliza merupakan pedagang/penjual paket pulsa di trotoar Jalan R Suprapto.

“Ketika itu korban Yuliza membelakangi meja dan datang seorang laki-laki yang tidak ia kenal mengambil HP dan kemudian berlari pada sebuah gang sekolah. Korban sempat mengejar, namun laki-laki tersebut lari bersama dengan temannya dengan menggunakan sepeda motor (Septor),” ungkap Sormin.

Sormin mengatakan, paska peristiwa itu, korban Yuliza langsung datang melapor ke Polres Sibolga. Ia mengaku telah menjadi korban pencurian HP, yang ia letakan di atas meja tempatnya berjualan paket internet di Jalan R Suprapto.

“Setelah menerima laporan, Kasat Reskrim AKP D Harahap memerintahkan unit Opsnal (Buru Sergap/Buser) untuk melakukan penyelidikan dan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan berhasil menangkap kedua terduga pelaku, IBHS dan AS, pada Senin (31/8) dini hari dari dua tempat berbeda di wilayah yang sama,” tutur Sormin.

Dari hasi pemeriksaan Polisi, AS yang kesehariannya berprofesi sebagai pengemudi beca bermotor (Pebetor) ini ternyata mantan residivis. Ia yang tinggal di Santeong, Kelurahan Santeong, Kecamatan Sibolga Kota, dan belum berkeluarga ini, pernah dihukum sebanyak dua kali. Pertama pada 2012, karena kasus pertolongan kejahatan. Ia di hukum di Lapas Tukka selama 5 bulan. Kedua pada 2018, dalam kasus pencurian kenderaan bermotor (Curanmor) dan dihukum selama 2 tahun di Lapas Tukka.

Sementara IBHS, yang masih berstatus pelajar ini belum pernah dihukum. Namun pada Februari 2020 lalu, ia terlibat kasus pencurian dan dilakukan diversi. Kemudian berulang pada Mei 2020, dimana ia terlibat kasus lagi berupa pencurian, tapi tidak ditahan karena mengingat statusnya masih anak-anak dan belum berumah tangga.

“Yang mengambil barang berupa 1 unit HP itu adalah IBHS, sedangkan AS menunggu di atas Septor yang tidak jauh jaraknya. Maksud barang diambil untuk dijual. Namun HP yang telah diambil belum sempat dijual,” ungkap Sormin.

Sormin menerangkan, dari hasil pemeriksaan juga, aksi pencurian itu ternyata telah mereka rencanakan sebelumnya. Saat berada di Jalan R Suprapto, AS yang meminjam septor temannya melihat seorang perempuan penjual paket internet seorang diri sambil bermain HP. AS kemudian menghentikan septornya di salah satu mulut gang di ruas jalan lalu meminta IBHS untuk mengambil HP milik perempuan itu, saat meletakkannya di atas meja jualan paket pulsanya.

Melihat korban (Yulia) sudah meletakkan HP nya di atas meja, IBHS  berjalan pelan-pelan lalu mengambil HP Yuliza lalu berlari menuju arah AS yang telah menunggu di atas septor. Saat itu Yuliza menjerit, sehingga AS memacu septornya dengan membonceng IBHS.

“Keduanya sudah di tahan di Ruang Tahanan Polisi (RTP) Polres Sibolga. Keduanya diancam pasal 363 ayat (1) ke 4e KUHPidana dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun,” pungkas Sormin. (Jhonny Simatupang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *