Sibolga, SeputarTapanuli.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Sibolga, Sumatera Utara (Sumut), mengkaji ulang atau memeriksa ulang data warga penerima manfaat bantuan Covid-19 di Kota Sibolga, karena sejumlah data penerima diduga masih tumpang tindih dengan data bantuan lain.

Hal tersebut atas permintaan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Sibolga, yang disampaikan langsung Syarfi Hutauruk, selaku Ketua dan juga Wali Kota Sibolga, saat menerima laporan dalam rapat evaluasi kinerja Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Sibolga sepanjang April hingga Mei 2020, di Aula Nusantara kantor Wali Kota Sibolga, Kamis (28/5).

“Jadi, dalam rapat itu, kita memeroleh laporan kekurangan/kelemahan itu, termasuk usulan dan kajian, serta langkah-langkah Tim Gugus Tugas dalam upaya penanganan percepatan memutus mata rantai Covid-19 di Kota Sibolga. Juga penilaian terhadap kinerja Tim Gugus Tugas sepanjang April hingga Mei 2020 itu, yang dinilai sudah tepat serta terukur,” kata Syarfi, menjawab SeputarTapanuli.com, usai rapat itu, Kamis (28/5).

Menurut Syarfi, pemeriksaan ulang atau pengkajian ulang data penerima manfaat bantuan Covid-19 ini adalah untuk mengakurasikan data penerima manfaat bantuan Covid-19 supaya tidak tumpang tindih dengan data penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT), Bantuan Sosial Tunai (BST), Beras Sejahtera (Ranstra), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Program Keluarga Harapan (PKH), dan lainnya. Sehingga penyaluran bantuan Covid tahap kedua Juni 2020 mendatang tidak terkendala seperti pada penyaluran bantuan tahap pertama Mei 2020, yang memakan waktu lama hingga menjelang Lebaran Idul Fitri 1441H.

“Walau sudah dipilih sebelumnya, tapi masih ada beberapa atau mungkin ratusan data penerima manfaat Covid-19 yang tumpang tindih tersebut. Maka itu, dalam rapat itu, kita minta kepada Dinas Sosial (Dinsos) agar bekerja sama dengan Lurah untuk memilahnya kembali,” aku Syarfi.

Selain itu, beberapa item sembako bantuan Covid-19 Pemkot Sibolga juga ucap Syarfi, kemungkinan akan ditinjau ulang atau diganti dengan sembako lain yang memiliki nilai kandungan gizi yang sama. Seperti telor yang dirasa mudah busuk.

“Ini juga berdasarkan rapat tersebut dan telah kita minta juga kepada Dinsos untuk mengkaji ulang itu, apakah memang layak untuk diganti atau bagaimana. Kalau mau diganti, apa penggantinya, apakah kacang hijau, susu, atau roti,” pungkasnya. (Jhonny Simatupang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *