Sibolga, SeputarTapanuli.com – Andreas Manalu, 24, pemuda lajang, warga jalan Toto Harahap, Kelurahan Aek Muara Pinang, Kecamatan Sibolga Selatan, Kota Sibolga, Sumatera Utara (Sumut), terpanggil untuk memberikan bantuan sembako kepada Viktor Simatupang, 71, si Pemulung Tua dan Uzur, di Kota Sibolga.

Viktor hidup sendiri di rumah milik abangnya di jalan Mawar, Ketapang, Kelurahan Sibolga Ilir, Kecamatan Sibolga Utara, Kota Sibolga. Namun dari Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) serta Kartu Indonesia Sehat (KIS) miliknya, Viktor tercatat tinggal/berdomisili di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) di Perumahan Guru/Aksara Indah No27 E, Kelurahan Sibuluan Baru, Kecamatan Pandan.

Andreas sendiri memberikan bantuan kepada Viktor, karena Andreas merasa pilu mengetahui kisah Viktor di media. Viktor yang sudah uzur diketahui masih memulung ditambah kondisi Viktor juga yang kurang sehat serta hidup sendiri. Selain itu, Viktor juga dinilai diabaikan oleh tiga anaknya diperantauan, belum lagi Viktor yang diketahui tidak mendapatkan bantuan sembako Covid-19.

Bantuan sembako berupa beras dan telur diserahkan sendiri oleh Andreas kepada Viktor, di jalan Ketapang, dekat gereja HKBP Sibolga Kota, Kelurahan Sibolga Ilir, Kecamatan Sibolga Utara, pada Selasa (19/5) lalu. Saat itu Viktor tengah mengepak barang-barang bekas hasil kutipannya dari jalan dan tempat-tempat pembuangan sampah di Kota Sibolga.

Andreas berharap kepada Viktor untuk memanfaatkan bantuannya tersebut sebaik mungkin. Dia juga mendoakan Viktor tetap sehat dan dalam lindungan Tuhan.

“Jangan lihat banyaknya, ya Pak. Ini saya berikan sesuai kemampuan dan keikhlasan hati saya,” kata Andreas, sambil memasangkan masker kesehatan pelindung hidung dan mulut kepada Viktor.

Viktor pun mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan Andreas tersebut.

“Terima kasih banyak lah semuanya,” kata Viktor, dengan suara pelan dan berat.

Viktor lalu bercerita mengenai kisah hidupnya sebelum bekerja sebagai pemulung sejak 2004 silam. Dulu sebelum memulung katanya, dia pernah bekerja di tangki di Sadabuan di Kota Padangsidempuan lalu berhenti dan bekerja sebagai sopir pengangkutan penumpang di perusahaan bus Sibualbuali.

“Karena badan sakit dan tak sanggup lagi, maka saya berhenti,” ujarnya.

Setelah berhenti sebagai sopir bus Sibualbuali, ia akunya, menganggur dan tidak memiliki pekerjaan lagi. Dan untuk menyambung kehidupan keluarga, ia pun saat itu bebernya, terpikir untuk bekerja sebagai pemulung. Hal itu semata karena kondisi fisik dan kemampuannya juga yang sudah tidak memungkinkannya untuk mengerjakan pekerjaan lain.

“Daripada menganggur, jadi bekerja apa adanya sampai sekarang ini,” ucapnya.

Sementara dari hasil memulung, dia mengaku hanya bisa menghasilkan uang rata-rata sekitar Rp20 ribuan per tiga hari. Bahkan terkadang hampir sama dalam satu minggu penjualan.

“Seperti Sabtu itu, dari satu minggu, hanya Rp27.900. Itu lah Pak, enggak ada lagi berharga barang itu,” tukas Viktor dengan raut wajah sedih.

Sementara itu dari informasi dilapangan yang diperoleh SeputarTapanuli.com, pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Sibolga atau lewat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, kabarnya juga bakal mengambil kebijaksanaan untuk memberikan bantuan kepada Viktor. Namun bantuan yang akan diberikan bukan sebagai terdampak Covid 19, tapi sebagai bentuk kemanusiaan. Karena sesuai aturan, Viktor tidak mungkin dimasukan ke dalam Data Penerima Bantuan Sosial (Bansos) Sibolga, karena Viktor bukan lah warga (penduduk) Kota Sibolga. (Jhonny Simatupang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *